Sabtu Sore di Negeri Tak Berbatas (Pt.2)

Kebahagiaanku dengannya dibawah sinar senja ini membuatku teringat masa dulu,  tepatnya seribu tahun yang lalu. Kala itu, aku masihlah seorang pengelana antardunia yang ditugaskan ke dunia ini. Demi memperluas pengetahuan bangsa kami tentang alam semesta, setiap jiwa-jiwa muda dipersiapkan untuk mengunjungi dunia yang asing bagi kami, bangsa Esoterica. Kunjungan pertamaku di dunia ini kumulai dengan harapan singkat, yakni agar perjalananku ke kampung halaman tidak terhambat, dan aku tiba dengan selamat.

Dari sekian catatan tentang dunia yang dikunjungi bangsa kami, dunia ini cukup aneh. Lautnya mendominasi daratan, sekitar 9:1. Di ujungnya, terdapat batuan karang raksasa seluas 15,242 km dengan ketinggian 4,002 m. Planet ini hampir tidak memiliki tumbuhan hijau yang menjulang di tanahnya. Apabila planet ini dihuni makhluk hidup, maka kecil kemungkinan bagi mereka untuk bertahan, sebab tidak ada pasokan oksigen dari tumbuhan.Tidak mungkin ada yang bisa hidup di planet ini.

Setelah pengukuran dasar kulaksanakan, aku berdiam di dalam pesawatku sejenak. Aku percaya bahwa mustahil bagi seorang penjelajah untuk dikirim ke dunia yang tak dapat dihuni oleh makhluk hidup. Kalaupun tidak ada daratan.Setelah pengukuran dasar kulaksanakan, aku berdiam di dalam pesawatku sejenak. Sambil menengok ke bingkai kaca yang berembun, kusaksikan lautan megah, luas dan tak berujung itu disinari sang surya yang tenggelam.

Anehnya, mataku seperti ditipu oleh bayang-bayang matahari. 

Dari kejauhan, terlihat sesosok makhluk seperti manusia menyapaku dari dalam laut. Tidak percaya, akupun menerawang ke kejauhan menggunakan binokuler. Begitu kutengok kembali, sosok tersebut telah lenyap tak berbekas. Berdasarkan penglihatan ini, aku percaya bahwa di dunia ini ada kehidupan, atau kehidupan mungkin ditumbuhkan di sini.


Sabtu Sore di Negeri Tak Berbatas (Pt.1)

Sabtu sore itu, mungkin akan menjadi pemicu segalanya. Segala haru, cinta, benci, rindu yang menjadi satu rupa berwujud rasa. 

Teringat dalam benakku, sebuah sabtu sore dimana aku dan engkau terduduk diam.Kau bersandar di pundakku, bersamaku menikmati perginya sore sambil berbincang ringan di tanah tak berujung. Setidaknya, saat itu kita berbahagia dan saling jujur terhadap perasaan masing-masing. Saling bersandar, membagi kisah dan opini terdalam yang tak kunjung terungkapkan. Dalam cemas bercampur gembira, bersamanya aku menunggu senja datang, saat mentari pamit tuk bersembunyi Dibalik kerumunan pohon nan rindang, duduk dibawah langit yang berjajar. Kala itu, yang kuucapkan dan kupikirkan berada dalam satu sinergi yang serupa;

"Aku ingin, agar momen ini berlangsung selamanya", bisikku kepadanya.

Dalam tangis harunya, ia menjawab, "sampai matahari berpaling saja.

Saat itu, aku berdoa kepada dewata dan seluruh alam semesta; Terima kasih telah membantuku meraih bahagia.

Lost stars

Ketika itu, saya tengah mengalami kejengahan hati. Di sebuah warung kopi di sudut Universitas Airlangga itu, saya merenung meratapi nasib dan menyelami celah terdalam di dasar hati. Di dalam pikiran saya, hanya ada satu hal : bintang mulai menghilang. Ketika malam menuju pagi, saya meratapi langit untuk mencari bintang. Bukan tanpa sebab, namun ketika saya melihat bintang, kontemplasi diri ini menjadi semakin mudah, semakin dalam. Di saat saya membutuhkan kontemplasi itu, bintang yang saya cari menghilang-dengan perpisahan yang menyakitkan, ia meninggalkan saya. Mohon maaf kalau gaya bahasa yang saya gunakan di tulisan ini sedikit sendu, sebab saat ini saya sedang ingin sendu. Penyebab yang mendasar adalah tentang bintang hati saya yang kini hilang.

Mengapa secara khusus saya menggunakan istilah bintang yang hilang sebagai judul? 

Bintang, adalah objek yang memiliki cahaya. Ia hanya bisa dilihat saat dunia kekurangan cahaya atau gelap. Di kala terang, bintang bukannya menghilang, namun mengabur oleh sinar matahari.

Bintang di hati ini tengah menghilang. Bukan karena ditutup oleh matahari, namun ia telah pergi dari hati ini. Kini, hati saya kembali gelap, tanpa penerang. Semesta diri masih tetap berjalan, namun tanpa bintang, ia hampa, tak berwarna. Untuk menjelaskan keadaan hati ini, saya akan mengutip dari lagu Adam Levine "Lost Stars" yang liriknya seperti ini:

But are we all lost stars trying to light up the dark ?


Tanpa terkecuali, semua manusia digambarkan sebagai bintang yang tersesat dan hilang arah. Masing-masing mencoba menerangi gelap di dunianya. Beberapa orang menganggap orang lain sebagai bintangnya, namun tanpa kita sadari seringkali kitalah bintang penerang kehidupan orang lain. Bagaimana mungkin kita mempercayakan nasib kita pada orang lain, sementara yang menjalani hidup ini sebagai protagonis adalah kita sendiri? Diri ini bukanlah tanpa makna ketika bintang kehidupan kita menghilang, sebab kita adalah bintang bagi diri kita sendiri. 

Terkait dengan hal yang saya utarakan, sebenarnya saya tidak sesedih di masa yang lampau, sebab pada awalnya kami telah berkomitmen bahwa perpisahan pasti terjadi, namun tiada terduga hanya berjalan selama satu kali purnama. Saya kesal, merasa bahwa ia tidak menghargai komitmen yang telah dibangun sedemikian rupa. Ketika saya membutuhkannya, ia bagaikan bintang di siang hari; seperti tak ada, padahal ia ada. Bahkan, saat ini ketika ia tidak lagi bersama saya, ia bagaikan bintang mati; kehadirannya tak terasa lagi di hati ini.

Mungkin engkau dan aku berada di semesta, namun dalam tataran alam yang kita enggan menjamahnya. Aku mengibaratkan diriku sebagai pelaut yang mengarungi samudra guna mencari cinta sejati.

Suatu ketika, di laut yang ke-5, aku bertemu seekor duyung yang nyanyiannya membuatku terpikat. Kami telah saling mengerti batasan yang menghalangi kami, namun kami saling acuh. Pada akhirnya, diajaknya aku menyelami dunianya di bawah laut. Ia menjanjikan kehidupan bak istana atlantis; tenang, megah nan sunyi, dan hanya kami berdua yang menghuninya. Sebelum mencapai tujuan tersebut, ia melepas tangannya dariku, dan membiarkan air mencekik kerongkonganku. Kulihat buih udara berhamburan dari diri ini, dan terus bertanya dalam hati: oh, Dewata, mengapa semua berakhir begini? Apakah aku terlena dalam nyanyiannya, hingga aku menjadi buta?

Hati ini terus bertanya, menggema dalam hati yang gelap, tanpa cahaya. Biar semesta tetap bercengkrama, engkau dan aku tak dipersatukan, baik dalam mimpi atau realita. Bintang dalam hati ini menghilang, kembali hati berada dalam kontemplasi tak beraturan.

Celine, i wish you were here.

Sepenggal cerita dari warung kopi

Salah satu hobi baru yang membuat saya candu di akhir-akhir ini adalah berkelana di sejumlah warung kopi di kota Surabaya. Selain memenuhi kebutuhan ngemil, warung kopi memberikan saya wadah untuk mengisi waktu luang untuk banyak merenung. Ya, merenung adalah satu hal yang paling saya senangi. Kebiasaan ini memberikan saya banyak momen untuk introspeksi, memikirkan hal-hal di luar jangkauan saya. Warung kopi, seperti menjadi jalan untuk saya melepas hasrat diri yang terdalam. Bukan berarti saya tidak bisa merenung di tempat selain warung kopi, tetapi ada sejumlah hal yang tidak bisa kita dapatkan selain di warung kopi; celetukan si pemilik warung pada pelanggan yang berhutang, seorang PNS (pegawai negeri sipil) yang memamerkan koleksi batu akiknya, atau sekumpulan anak muda yang membahas hal muluk-muluk, kritis dan konyol. Semua itu terjadi secara random, bahkan dapat saya katakan bebas, lepas, namun tidak menyenggol satu sama lain. 

Membicarakan tentang warung kopi, rasanya tidak afdol kalau kita meninggalkan istilah tersebut hanya pada sebuah bilik berisikan lampu petromaks dan kompor gas yang tengah menggodog air. Di Indonesia, terdapat sebuah grup lawak dengan nama yang sama, Warkop DKI, atau Warkop prambors. Saya tidak akan membahas panjang lebar tentang sejarah dan tetek bengek tentang Warkop, karena info tersebut bisa anda temukan di penghujung manapun di dunia maya. Semasa saya kecil, saya tidak terlalu sering menontonnya (maklum, lahir tahun 1993, dan masih dibodohi dunia). Satu kenangan yang mendasar tentang Warung kopi dan personilnya yang pertama kali saya dengar, adalah meninggalnya almarhum Kasino Hadiwibowo pada tahun 1997. Saya baru 4 tahun, dan saya merasa bingung, lah kok meninggal orang ini?. Kemudian, pada tahun-tahun berikutnya, pada tahun 2000, saya melihat sebuah program televisi (kalau nggak salah, Warkop Millenium). Saya melihat Kasino tengah bercanda dengan kawan-kawannya di stasiun televisi. Lho, kok saya seperti ditipu? Katanya sudah meninggal, kok masih ada saja di televisi? Logika saya kala itu, mengarahkan saya untuk kagok. Beberapa tahun kemudian, saya baru sadar, bahwa televisi tidak melulu menampilkan hal secara langsung. Hahaha, mungkin kedengarannya saya bodoh, namun di satu sisi kita perlu mempertanyakan, benarkah seseorang benar-benar "mati"?. Istilahnya, apabila seseorang meninggalkan dunia, dimakamkan, apakah kemudian kenangannya akan hilang?. Tidak, karena ia akan ada di benak orang lain yang mengenalnya. Apabila ia seorang figur yang berkontribusi di masyarakat, ia akan diabadikan; sebagai nama, sebagai suatu hal yang dirindukan (meminjam istilah Baudrillard & Lyotard; Nostalgia!!). Mereka tidak mati, tidak, selama masih ada yang mengenang mereka.
 
Kembali lagi ke persoalan warung kopi. Semangat kebebasan berbicara adalah yang terdapat di (menurut saya), setiap warung kopi. Selama ada manusia yang ingin bertukar pikiran dan melakukan kontemplasi di tempat ini, semangat kebebasan berpendapat itu akan ada. Kapan lagi, kita bisa secara random membicarakan ketuhanan? Kabar miring tentang aparatus negara, atau banyolan internal yang kita nikmati secara terus-menerus dan menimbulkan kekehan tiada henti? Hanya di warung kopi, semangat itu terwadahi. Sayangnya, di satu sisi terkadang perkembangan jaman juga turut menggerus semangat ini. Dominasi teknologi bernama ponsel cerdas (smartphone), membuat akses ke dunia luar begitu mudah, sehingga ketika kita melihat seseorang sibuk menatap objek berpendar tersebut, bisa dipastikan bahwa jasadnya tetap berada di tempat, namun pikirannya melanglang buana, sehingga atensi (perhatian) dirinya teralihkan. Bagaimana juga, apabila ia tetap konsisten pada layar dan mengajak orang tersebut bicara, ia tidak akan memerhatikan secara utuh. Ada yang mengistilahkan orang seperti ini autis, anti-sosial. Istilah ini tidak benar, mengingat ada istilah phubbing, yang lebih tepat untuk menjelaskan keadaan di mana ada seseorang yang terlalu sibuk menatap perangkat teknologi sementara ada sebuah konteks sosial yang berlangsung. Menurut saya, percuma saja anda menjunjung tinggi semangat demokrasi, kebebasan berpendapat, namun anda, orang sekitar anda melakukan phubbing?. Mengarahkan orang untuk menghargai mereka yang meluangkan waktunya untuk bertukar pikiran adalah satu langkah memanusiakan orang lain. 

Oh ya, apabila ada di antara anda yang melihat posting dalam blog ini secara mendalam dan melihat tema dan gaya penulisan yang inkonsisten, saya jelaskan bahwa saya orang yang ingin berpikir dan berperilaku bebas, walaupun beberapa muatannya mungkin tidak bermanfaat, merugikan dan merusak jantung. Saya menjunjung tinggi semangat kebebasan, maka dari itu, anda bebas mengkritik saya. Terima kasih, selamat pagi, dan selamat menempuh hidup baru.

Bima Adi Priambodo

Mahasiswa kepentok Skripsi

Somehow..

Somehow.. dalam satu semester ini saya berantakan.
Somehow.. semua berjalan tanpa saya sadari
Suddenly.. i got a girlfriend.. yet she's not whaat i was waiting for
Suddenly.. i realized that i'm getting older.. it's my fourth year, yet to leave this place


Memang, semua ini terasa begitu cepat. Kemarin, segalanya tampak baik-baik saja, tidak ada yang banyak berubah, hanya saja empat ringkasan di atas membuat saya berpikir dan merenung sejenak, bahwa saya tidak lagi berada dalam sebuah fase untuk berpikir bahwa "semua akan baik-baik saja".

Satu per satu, saya melihat teman-teman saya pergi. Pergi dari kampus, yang mana mereka telah menjalani sidang skripsi seusai berjuang selama 3,5 tahun. Sedangkan saya? masih menunggu hidayah, atau bahkan tidak berani beranjak dari kemalasan berkedok "zona nyaman". Semua adalah dosa, yang saya rasa berasal dari segala bentuk tindakan saya.Orang mengatakan ini sebagai sebuah karma, sebuah adzab yang membuat diri ini terkena balasan atas segala tindakan yang telah saya lakukan; saya tidak kunjung membenahi diri, tidak kunjung mengerjakan skripsi.

So, the conclusion is?

Membenahi diri? Membuang ego, hasrat yang menggila untuk menghindari skripsi? Tidak segampang itu. Tidak ada ide yang terwujud tanpa dilengkapi oleh aksi. Jika aksi, atau tindakan yang diperlukan, maka mau tidak mau, harus saya lakukan. Tidak boleh ada lagi hal baik yang saya tunda.
Tidak boleh.

Ancient Aliens!!

Belakangan ini, kelengangan waktu yang saya miliki, saya pergunakan dengan seksama untuk menyimak dan memikirkan sebuah tayangan di televisi kabel, bertajuk "Ancient Aliens" yang disiarkan di History Channel. Secara ringkas, tayangan ini mengisahkan tentang bagaimana peradaban kuno di bumi dulunya sering menjumpai makhluk Ekstraterestial, atau yang kita kenal sebagai alien di masa kini.
 
 Dengan teknologi dan pengetahuan kita yang konon melampaui pengetahuan manusia zaman tersebut (bahkan mungkin di zaman semacam ini), mereka memperkenalkan manusia terhadap hal-hal yang bersifat konstruktif, yang mengarahkan manusia untuk membentuk peradaban seperti yang kita kenal sekarang ini. Dengan gamblangnya, acara ini, serta berbagai narasumber yang ditampilkan menyebutkan bahwa hal tersebut mungkin saja terjadi, atau bahkan pernah terjadi secara riil.
 
Mengapa demikian? Berdasarkan materi tayangan tersebut, saya menyimpulkannya dengan beranggapan bahwa manusia di zaman itu belum mengenal hal-hal yang kompleks dan bersifat ilmiah. Mereka tidak akan mampu membangun piramida giza yang secara struktural begitu kompleks, dan tidak dapat dibangun dalam waktu yang relatif singkat. Beberapa relief kuno di situs pra-sejarah menunjukkan gambar-gambar makhluk yang asing, di mana dalam relief tersebut sosok terkait diilustrasikan bersayap, mengendarai objek asing (UFO) yang berbentuk seperti kendaraan terbang. Sekilas, acara ini membuat kita terpukau dan berpikir bahwa hal itu mungkin saja terjadi; kita tidak dapat mengetahui secara mendetail apa saja yang terjadi di masa itu, dan tidak ada bukti kuat yang mendukung alien itu benar-benar tidak ada. Anything's possible, kalau saya boleh berkomentar, karena toh manusia hanya terkungkung pada satu semesta yang disebut bumi, dan tidak banyak hal yang manusia ketahui tentang ruang angkasa. Bahkan, secara ekstrim saya berkata bahwa manusia tidak tahu apapun sama sekali tentang alam semesta. Yakinkah kita bahwa bumi yang kita kenal adalah bumi? Apakah kita ini benar-benar ciptaan tuhan, atau justru kita ini adalah ciptaan alien, seperti yang digagas di acara tersebut? Kita tidak tahu pasti kan?

Dari racauan panjang di atas, saya terpikir bahwa teori ini, sepintas memiliki "loop" yang tajam di dalamnya. Apa saja ? Berikut ini pemahaman saya mengenai teori tersebut:
 
1. Mengingat sejarah manusia, di berbagai belahan dunia manapun, selalu mengkaitkan tentang asal-usul penciptaan mereka dengan para dewa, tuhan, atau makhluk astral yang berbeda dari mereka. Dengan kekuatan ilahi, sosok ini memberikan berkah, kekuatan dan pengetahuan bagi manusia di zaman itu untuk menjalani hidup di dunia ini. Di sini, terlihat jelas bahwa sosok yang banyak berpengaruh adalah para Dewa.

2. Seiring dengan berkembangnya pemahaman manusia tentang alam semesta, ilmu pengetahuan, serta pemikiran manusia untuk hidup maju, mereka mulai meruntuhkan mitos bahwa para Dewa adalah yang menciptakan manusia. Gunung, laut, maupun langit yang dianggap sebagai singgasana para dewa pun dijelajahi, dan tidak satupun ditemukan markas para Dewa, sehingga manusia meninggalkan para Dewa, dan beralih ke hal yang lebih baru. Perjalanan manusia yang dilakukan ke luar Angkasa (dimulai dari Bulan) semakin mempertajam opini bahwa manusia tidaklah sendirian di alam semesta ini; luasnya alam semesta dan imajinasi manusia, mengerucut pada satu opini bahwa makhluk dengan intelijensi seperti manusia mungkin saja hidup di luar bumi. 

3. Karena para dewa yang pernah dipuja manusia merupakan "karangan" dari manusia masa lalu, manusia memikirkan hal lain yang lebih fantastis, lebih masuk akal dengan benak manusia di zaman ini. Apa itu? Makhluk asing yang memiliki teknologi tinggi, atau disebut alien. Istilah "alien" sendiri, toh baru dikenal di abad ke-20 ini, sehingga pikiran manusia di zaman ini, secara umum akan terpetakan pada alien, ketika hal-hal yang bersifat asing terjadi di sekitar mereka. Hal yang tidak dapat kita jelaskan asal-usulnya tersebut, kita asosiasikan dengan intervensi alien. 

Adakah dari opini tersebut yang terlihat familiar? 

Ya, Dewa dan Alien adalah imajinasi manusia yang identik, dengan format berbeda. Nenek moyang kita mengaitkan hal-hal yang menakjubkan bak mukjizat dengan aktivitas para dewa, sementara kita, manusia modern, mengaitkan hal tersebut dengan makhluk semacam alien. Sepertinya, kebiasaan ini tidak hilang dari manusia, walaupun zaman telah berbeda; mereka tetap tidak bisa menjelaskan hal-hal aneh, sehingga pelampiasan mereka tertuju pada hal-hal di luar diri mereka. Kita manusia masih terjebak pola yang sama, dan hal ini menunjukkan bahwa manusia, seperti yang saya tuturkan, tidak tahu apa-apa.


Makin Tua Makin Jadi

Setelah menjalani pertapaan, akhirnya ranah imajiner ini terisi.

Kembalinya si pertapa dalam mencari kitab suci, bersama sejumlah kawan mulai menuju akhirnya.

Akankah dia berhasil mencapai pencerahan?

Saksikan di layar tancap terdekat.


Selamat jumpa dengan anjingbicara yang jarang berbicara di dunia ini. Mungkin memang jalan takdir mengarahkan saya sebagai penulis untuk terjebak dalam kerasnya dunia persilatan, sehingga blog ini tak banyak terisi lagi. Bagaimana kabar anda yang membaca tulisan ini? Sehat? Kalau iya, semoga tetap sehat, kalau tidak, ya semoga kesehatan itu tidak menjadi mitos bagi anda sekalian.

Melacak kembali ke posting sebelumnya, yaitu menjelang tua. Ya, setelah beberapa bulan menulis racauan tentang diri yang tidak lagi muda di dunia perkuliahan, ke"tua"an diri ini membuat saya miris, sekaligus tentram di saat yang bersamaan. Mengapa demikian? Satu alasan adalah bahwa saya semakin dekat dengan kehidupan dewasa yang penuh tantangan. Di satu sisi, menjadi orang dewasa adalah momen di mana manusia mulai bisa membohongi anak kecil dengan menciptakan mitos-mitos tidak masuk akal untuk mencegah mereka bertindak liar dan bebas.

Pemikiran semacam ini muncul di pemikiran saya, tepatnya kala dini hari ketika mencari bahan untuk membuat skripsi. Skripsi, ya, skripsi. Salah satu tantangan yang nantinya dihadapi oleh sarjana tua yang hendak memasuki dunia yang kejam. Mahasiswa semester tua berbondong-bondong mendatangi perpustakaan, kafe, dan segala tempat yang menyediakan informasi, privasi yang dibutuhkan dalam menggarap skripsi.

Satu hal yang tidak saya sadari adalah, bahwa saya tidak kunjung menyegerakan untuk menggarap skripsi yang terkatung berminggu-minggu *brb ngecek skripsi*.

Ketika saya bersila di singgasana saya (KBU), saya menatap ke sekitar, melihat lalu lalang manusia yang memenuhi koridor dan parkiran FISIP. Terbersit dalam otak, "terlalu banyak populasi manusia di sini". Mungkin, kami membutuhkan fasilitas baru, atau administrasi kelulusan yang simpel, atau mungkin wabah penyakit jenis baru yang bisa memusnahkan manusia sebanyak ini. Mungkin saja, tapi kalau itu terjadi, saya akan digebuk massa. Melihat bibit muda tersebut, saya tidak menyangka bahwa saya sudah berada di jenjang terakhir. Tidak banyak yang dapat saya katakan, selain fakta bahwa saya sudah menua di sini. Namun, ketika saya melihat teman-teman seperjuangan yang semakin bertindak liar, justru bermain-main. Cerminan perilaku mereka, seperti mengingatkan saya adalah, bahwa tidak seharusnya saya terlalu serius.

Mungkin, yang dibutuhkan oleh orang yang "merasa tua" ini adalah sebuah momen santai. Itu saja.



 

Menjelang tua

*bersih-bersih debu

*ngecekin timeline

Selamat dinihari pembaca!!

(itupun kalo masi ada yang baca)

Sudah (ngitung dulu pake jari) 6 bulan lamanya blog ini tak terjamah oleh tangan bertanggung jawab, huhuhu. Bukan apa-apa, udah bingung mau nulis apa lagi. Curhat via dunia maya is too mainstream. Jadi, yah terpaksa saya tinggalkan blog ini. Tapi iseng-iseng ngecek, dan rasanya miris melihat rekap hidup gak kecatat sama sekali.

Bagaimana kabar anda semua? Sehat? Masih hidup di era jungkirbalik?

Ngomongin jungkirbalik, sekarang agak heran lihat televisi. Kemana-mana, acaranya samaaaa semua. Mulai dari yang guyonannya slapstick, kacau, menghadirkan ular di TV, sampe acara joged bareng-bareng satu kecamatan (kaya acara YKS gitu). Heran ya, joged rame-rame sekarang lagi musim. Mungkin, televisi swasta harusnya bikin acara yang lain daripada yang lain, kaya mandi bareng-bareng gitu. Kan enak, bisa liat-liatan satu sama lain dengan bebas, telanjang apa adanya. 

#digebukmassa

 Singkatnya, banyak terjadi hal-hal unik dan aneh belakangan ini. Setelah sekian lama, band-ku, Mama Suka Metal, akhirnya membuahkan anaknya yang pertama, sebuah lagu berjudul "Budak Dogmatis". Kalau ada yang mau, terutama cewek, imbalannya kasih nomor/ID line kamu. Maklum lagi bingung mencari hati yang bersedia dilabuhi. 

Sekarang, aku ada di dunia dimana aku sudah tak muda lagi (baca: semester tua). Ya, di semester 6 ini, aku mulai menghadapi hal-hal yang menakutkan, salah satunya adalah PROPOSAL. Ya, proposal, atau lamaran, pengajuan. Tapi bedanya, yang dilamar di sini bukan pacar, tapi dosen. Dosen jadi maha kuasa, karena kalau lamaran kita ditolak dosen, kita bakal ngulang, atau lebih parahnya lulus dengan waktu yang tertunda.  Proposal skripsi, mata kuliah yang pasti diambil sama anak Komunikasi Unair yang menjelang tahun tua.

Nggak kerasa, udah 3 tahun lamanya aku masuk ke jurang yang disebut perkuliahan. Rasanya baru kemarin susah payah nyari kuliah, gagal ujian masuk. Baru kemarin rasanya pacaran, putus terus galau. Pacaran lagi, galau lagi. Satu hal yang jelas, waktu terus berlalu, tapi satu hal yang perlu kita lakukan adalah menempatkan diri. Mau berada di belakang waktu, atau di depan waktu. Mau move on, atau stay on? Itu pilihan.

Di saat yang sama, aku lagi nyusun bagan proposal skripsi. Mumpung nganggur kala liburan, lebih manfaat kalau kita pake buat ngelakuin hal yang beginian. Daripada ngabisin duit keluar ke mall, liburan ke mana, mending liburan ke perpus, mojok, buka laptop, bokepan. 

#digebukmassalagi

Maksudku kita lebih baik manfaatin waktu buat ngutak-atik proposal, atau skripsi yang kita garap. Karena skripsi adalah syarat sah buat lulus sarjana. Udah gak keitung mungkin orang yang lulus tertunda karena terjebak di hal yang sama, SKRIPSI. Moga-moga aja, aku, siapapun yang baca blog-ku, gak termasuk salah satu diantara mereka. 

The Time They are a'changing

Waktu terus berjalan. Momentum, semesta di sekitar kita pun terus berjalan. Kita sebagai manusia tidak bisa lepas dari dimensi waktu yang terus berjalan maju. Semakin hari tiada terasa kita makin menua, secara fisik, maupun mental. Hal ini adalah satu fase mutlak, yang hanya kita terima; bahwa nantinya peran kita akan digantikan oleh orang lain, dan peran kita di zaman ini sudah berakhir. Kita terus berjalan maju, tanpa bisa mundur. Seandainya kita bisa membelakangi waktu, akankah kita hidup di momen ini? Itu semua teoritis, namun seandainya bisa, mungkin, aku akan menjadi orang yang terus membelakangi waktu. Aku tak ingin semua ini maju, tanpa bisa kukendalikan. Biarkan aku hidup di luar waktu! Aku tak ingin terbelenggu oleh karma alam yang merengkuh kemudaan dan kesenanganku tiap waktu. Aku ingin, semua tetap seperti ini. Jangan berubah, jangan bawa aku ke suatu tempat dimana aku tak bisa merengkuh kendali atas diriku.

'pure' Evil?

Secara umum, pemahaman kita tentang nilai suatu hal tercabang pada nilai "benar" atau "salah". Suatu hal dianggap baik, jika hal itu tidak merugikan dan melawan moral, begitu pula sebaliknya dengan hal yang jahat; yakni hal yang merusak, merugikan. Untuk mencegah agar manusia tidak berbuat jahat, maka diciptakan yang namanya aturan agar hidup kita teratur dan tidak ada yang dirugikan satu sama lain.

Tapi kita perlu ingat juga bahwa standarisasi seseorang terhadap penilaian benar salah itu berbeda, tergantung kebudayaan tempat ia bertumbuh, serta pengalaman yang dia peroleh ketika menghadapi suatu realita. Apa yang kita nilai baik, bisa dinilai berbeda oleh orang lain, begitu pula sebaliknya. Nah, kalau standarisasi saja berbeda, bagaimana seluruh orang di dunia bisa paham yang baik yang mana yang buruk yang mana?

Seperti yang sudah saya bilang, aturan itu dibuat untuk membuat suatu batasan bagi perilaku manusia. Batasan-batasan ini mungkin berbeda di tiap suku bangsa, namun satu hal yang pasti bahwa tiap bangsa di dunia punya sejumlah nilai-nilai dasar yang hampir sama. Nilai-nilai dasar inilah yang menurut saya, pasti dimiliki orang sedunia. Nilai-nilai ini pada dasarnya berperan  sebagai kompas manusia dalam berperilaku, untuk mengarahkan mereka ke tindakan yang mampu memupuk harmoni; misalnya tidak merugikan orang lain; tidak membunuh; tidak mencuri; dan lain-lain. Mereka yang melanggar, jelas terkena sanksi. Apapun bentuknya, tergantung sanksi yang disepakati oleh masyarakat.

Orang yang merugikan orang lain, baik dari segi mental maupun material, biasa kita atribusikan sebagai orang yang jahat. Orang yang jahat seakan-akan digambarkan sebagai sosok antagonis dalam kehidupan kita (dimana kita berperan sebagai protagonis). Ketika orang diatribusikan sebagai sosok yang jahat, kita seringkali terstimulasi untuk berpikir negatif terhadapnya, dan pada akhirnya kita menjauhi sosok yang disebut 'jahat' ini. Dengan adanya teknologi seperti media massa, khususnya televisi, interpretasi kita terhadap sosok jahat makin menjadi-jadi; salah satu contohnya adalah sinetron. Di dalam sinetron sering kita jumpai protagonis yang dihujat dan 'disiksa' oleh tokoh antagonis. Dalam sinetron, seorang tokoh antagonis digambarkan begitu 'negatif' hingga segala sesuatu yang diperbuat oleh tokoh yang diatribusikan sebagai 'baik' dirasanya tidak menyenangkan, sok-sokan, tidak tahu diri.

Ketika seseorang memunculkan perilaku berupa pandangan sinis, intonasi membentak dan kasar, selamanya ia dikategorikan 'jahat'. Walhasil, kita yang menjadi khalayak ini juga turut berpikir atas representasi pembuat sinetron tentang orang jahat itu. Kita juga turut emosional, geregetan dan cenderung 'membenci' orang yang ditampilkan tersebut dan menaruh simpati terhadap orang yang diatribusi baik. Secara tidak langsung juga media disini berperan mengkonstruksi pemikiran penontonnya, tentang orang yang 'baik' dan 'jahat'. Tapi menurut saya, 'jahat' atau 'baik' yang direpresentasikan oleh pembuat sinetron disini adalah hal yang tidak realistis (walaupun pada dasarnya sinetron tidak realistis), karena pada dasarnya manusia itu pasti punya dua sisi. Itu hal yang pasti, karena seperti kita tahu orang yang mutlak baik itu tidak ada, begitu juga jahat. Apakah ada manusia yang dari lahir sampai dewasa murni 'jahat'?.

Perlu kita ingat, bahwa bahasa adalah salah satu keuntungan bagi manusia, karena tidak semua makhluk di bumi ini mampu menggunakan struktur yang rumit. Bahasa sendiri digunakan untuk mewakili sebagian realitas yang dihadapi manusia, yang gunanya untuk menyederhanakan kerumitan dari realita yang dihadapi dengan pikiran. Kata 'jahat' sendiri, mewakili suatu realitas tertentu dimana suatu hal menunjukkan ciri-ciri yag bisa kita golongkan sebagai jahat. Contoh : anda melihat televisi, melihat berita kriminal yang melaporkan tentang orang yang membunuh korbannya dengan cara memutilasi, kemudian pikiran anda tertuju pada kata-kata : kejam-jahat. Mengapa demikian? Bentukan budaya anda-lah yang mengarahkan pemikiran anda ke sana. Kita tidak tahu harus menyebutnya bagaimana, karena pilihan bahasa, serta kata-kata kita terbatasi oleh kata-kata tersebut.

"Jahat".

Kata-kata yang terdiri dari 5 karakter, yang tersusun atas sintagma dan paradigma. Tidak hanya kata ini, kata-kata yang lain juga diciptakan berdasar kesepakatan orang terdahulu. Dari bebunyian yang primitif hingga menjadi kata-kata modern dan memiliki makna kompleks. Keistimewaan manusia tersebut, malah menjadi racun bagi diri sendiri; karena sifatnya yang mewakili realita. Realitas adalah hal yang kompleks, dan otak manusia menyusunnya menjadi suatu hal yang sederhana. Kesederhanaan inilah yang membuat kita luput, hingga mengatribusi sesuatu sebagai 'jahat' dengan seenak kita. Andaikan realitas tentang 'jahat' itu melebihi realitas yang diwakilkan oleh kata-kata, akankah manusia paham? Dan apakah ada 'jahat' yang murni itu?

Ketidaktahuan ini masih belum bisa terjawab, mengingat keterbatasan jenjang pikiran kita. Satu-satunya penenang bagi anda dan saya untuk masalah seperti ini, bisa kita temukan di lirik lagu dari sebuah band asal Inggris, dalam liriknya "Stairway to Heaven"

"Cause you know, sometimes words have two meanings"




Narasi Depresi

 




   

Untuk seorang ayah

awal cerita terindah bagiku
di depan pintu kau sambut aku
dengan tenagamu kau rengkuh aku
dan berjanji takkan melepasku

semakin ku mengenalmu
semakin kau jauh dariku
beban hidup dan tanggunganmu
membuat jarak lebar antara kau dan aku

angin yang bergerak membawaku
memicu sikap berontakku
membuatku jauh darimu
seakan ku tak pernah mengenalmu

kau katakan ku tak mengerti
ku berpikir kau ingin menang sendiri
siapa yang sebenarnya salah
dan siapa yang memicu masalah

dalam gelap ku bertanya
apa yang dikehendakinya
apakah kami terlalu berbeda
atau ku tak membuka hati untuknya

pertengkaran dan perdebatan
tak lepas dalam keseharian
hanya karena perbedaan keinginan
janji kita pun tergoyahkan

semakin kau telusuri
semakin dalam tancapan duri
dalam hati ku ingin ulangi
masa dimana kita tak sejalan lagi

dan tanpa kusadari
kini otakku penuh distorsi
andai waktu dapat terulang kembali
kan kukekang semua ego ini

maafkan semua salahku
lupakan semua celaku
menjauhnya aku dan dirimu
kini berubah ketika kau tinggalkanku

pergilah dalam damai
dari dunia yang ramai
kau kan kukenang dalam hidupku
karena tanpamu..aku hanya relik masa lalu

Andai Aku jadi Presiden

Tahun 2014 nanti bakal jadi ajang rebutan kursi RI-1, atau yang kita kenal tampuk kepresidenan Indonesia. Tiap kader dari 10 partai bakal unjuk gigi dan kebolehan, dan saling berebut simpatisan dan suara di pemilu. Melihat Rhoma Irama yang katanya bakal nyalonin diri jadi presiden, aku pun terinspirasi dan mikir, gimana jadinya kalau aku jadi presiden. Inilah hal-hal yang bakal aku lakukan kalau aku jadi presiden.

1. DUKUNG KERAS LEGALISASI Ganja
2.Nikah beda agama boleh, syarat dan ketentuan berlaku
3. Bakal ada kementerian baru, yang singkatannya MP3 dan MP4. MP3 (Menteri perlindungan para perokok) dan MP4(Menteri perlindungan perokok pasif)
4. Rubah satuan TNI. AD diganti pasukan leak, AU diganti pasukan bersenjata mandau& santet,, dan AL bakal dipegang penuh sama ratu Pantai Selatan
5.Jomblo tidak hanya diberdayakan, tapi dapat gelar honoris causa
6.Mereka yang terkena bullying, silahkan mengadu ke komnasbul (komisi nasional Bullying), tersebar di seluruh pelosok kelurahan
7. Tapi kalau kamu dibully karena kamu bau, itu salahmu sendiri
8.  Membuat stereotype boleh, rasis jangan
9. Bahan dasar Suramadu bakal diganti plastik, soalnya besi, kabel sama lampunya dicolongi semua
10. Buat para koruptor, siap-siap gak bisa korupsi. Karena duitnya gak ada
11. Raja Dangdut bakal digantikan Raja Tarling #hidupmusikpantura
12. Kaum jomblo adalah orang istimewa, orang-orang terpilih
13. Badan Intel bakal diisi oleh hantu-hantu setempat
14. Yang pandai membuat karya tulis tapi nggak punya kerja, silahkan bergabung ke SPS (Staff Pengetik Skripsi)
15. Jago gambar bakal jadi seperti Nabi di negaraku
16. Jomblo adalah kaum proletar, sedangkan orang yang punya pacar adalah kaum kapitalis. Jenjang antara yang berpunya dan tidak berpunya inilah yang membuat saya terpanggil sebagai presiden Indonesia 2044 nanti
17. Peraturan Pemerintah pasal 69 ayat 99a : selain diberdayakan, jomblo akan mendapat keistimewaan dalam bernegara
18. Partai Politik harus satu, dan namanya adalah Partai Ria Kenjeran

Begitulah yang bisa saya sampaikan sebagai calon presiden. Di Tahun 2044 nanti, anda harus mendukung saya, kader dari Partai Ria Kenjeran.

Penutup

Bagaimana mungkin seorang yang berdedikasi tinggi, masih mempunyai tekad, dan tenaga untuk memperoleh impiannya seketika menghentikan usahanya? Mental yang melemah, kurangnya motivasi, atau apa? Semua yang berawal pasti mempunyai akhir. Dalam memulai, diperlukan proses yang panjang dan rumit, namun semua itu jika dilakukan dengan benar akan membawa si pelaku menuju akhir yang baik. Jika di awal saja menyerah, bagaimana dia bisa menikmati akhir?


Carry on wayward

Stuck atau mampet akan terjadi ketika kita tidak bisa berpindah dari satu tempat. Penyebabnya bisa bermacam-macam : terikat erat oleh tempat itu, atau kondisi lingkungan sekitar tidak mendukung. Kalau kita stuck di satu tempat, tapi tempat itu menguntungkan kita. Tapi kalau membawa kesialan tersendiri bagi diri kita, kenapa kita masih terus bertahan? Karena sebagian manusia terikat kepada kenangan yang ia peroleh selama berada di tempat itu. Sebenarnya dia bisa pergi kapanpun, tapi tidak bisa menjauhkan diri dari kenangan yang dulu pernah ia alami.

Arti Kebebasan?

Apakah itu kebebasan? 

Bebas berarti tidak bergantung, tidak terikat dan terpengaruh oleh apapun; merdeka. Konteks bebas disini terkait dengan pengembangan diri, dan bergerak sesuai kehendak pribadi. Namun, dalam mengembangkan diri, cepat atau lambat kita akan bersaing dengan orang lain ; karena sarana untuk mengembangkan diri ini sifatnya terbatas. Otomatis, kita harus memperolehnya melalui usaha keras; berlatih, belajar lebih giat dari orang lain. Padahal, kita bebas tapi untuk memperoleh kebebasan itu semuanya dipersulit. Bebas disini bukan berarti untuk memperoleh kebebasan tersebut kita bisa memperolehnya dengan cuma-cuma atau gratis. Namun, kita juga harus berusaha untuk memperoleh kebebasan. Saya tekankan, disini kebebasan bukan berarti gratis.

Orang yang bebas, bagai burung yang sudah lepas dari sangkarnya ; tidak punya beban, tekanan dan kurungan yang selama ini menghalanginya untuk maju. Tanpa kekangan, dia terbang sesuai kehendak pribadinya, tanpa dikekang orang lain, atau apapun. Dia bebas mengepakkan sayapnya di udara, melihat langit senja yang indah disinari terbenamnya matahari. Namun, seperti semua makhluk yang hidup, dia dibatasi oleh waktu dan kekuatan alam. Pada akhirnya dia, maupun semua makhluk hidup di bumi tidak akan bebas. Kalau begitu, apa itu kebebasan? Tidak bergantung kepada siapapun? Bebas sebebas-bebasnya tanpa batasan? Ataukah bebas sebebas-bebasnya, namun jangan melanggar kebebasan orang lain? 

Keterbatasan bahasa, membuat makna kebebasan itu menjadi rancu. Universalitas yang ditekankan oleh objektivitas kita akui sulit dicapai dalam menjelaskan suatu hal (dalam konteks tulisan ini, menjelaskan makna kebebasan). Selalu saja ada nilai-nilai yang menghalangi kita untuk memperoleh kebebasan, dan dalam ilmu pengetahuan hal tersebut tidak boleh terjadi. Namun dalam kehidupan kita sehari-hari, apakah kita seberani itu untuk melepas nilai-nilai di sekitar kita, dan maju untuk membebaskan diri? Menurut saya, tidak semua orang bisa melakukannya.

Pada akhirnya, definisi kebebasan itu akan dijelaskan oleh orang yang memahaminya. Pemaknaan, dalam informasi, atau persepsi, berada di komunikan. Berarti, anda yang membaca tulisan ini sendirilah nantinya yang memaknainya. Bebaslah dalam menilai, karena itu adalah hak anda. Menurut saya, kebebasan itu...saat dimana kita bisa menjadi Tuhan, dan Hamba bagi diri kita sendiri :D .


IP RISES

Setelah satu semester ini nggembel, akhirnya yang ditunggu-tunggu keluar : IP!!

Semester 1 dipenuhi kesedihan karena hancurnya IPS saya yang ada di angka 2,92. Semester 2 ada kemajuan, IPS jadi 3,07. Saya bisa bernafas lega, karena IPK saya bisa jadi 3,00 pas :D . Dan semester 3 ini alhamdulillah IPS saya meningkat, jadi 3,22 :D dengan ini saya bisa bernafas lega. IPK saya sekarang naik ke angka 3,08.

Semoga di semester 4 nanti IP-ku (indeks prestasi) bisa naik terus :D amin.

Back in Black

Selamat datang 2013, walaupun ngucapinnya udah telat umur 27. 

Alhamdulillah, saya semakin sehat. Insiden pembacokan telah terlewati, walaupun imbasnya badan saya tidak berfungsi seperti sediakala. Masih nggak kapok juga pulang malem, keliaran dan gak ngasih orangtua. Namanya juga bebal, masuk kuping kiri keluar kuping kanan. 

Setelah kembali ke ranah dunia maya ini, saya cuma pengen aktif mengutarakan isi otak saya yang gak karuan, karena.. stok memori di otak ini udah kepenuhan, dan "sampah" yang ada di dalamnya harus segera keluar :D. 

Harapanku selama 2013 ini : Mama Suka Metal bisa bikin demo lagu. Band satu ini (insyallah) akan menjamah dunia heavy metal Surabaya. 
(logonya udah jadi)

Selain berkecimpung di dunia Heavy Metal, aku cuma berharap segara urusan duniawiku dilancarkan. Selain itu, kalo bisa juga urusan ranah percintaanku diluluskan :D, biar gak kesepian meratapi nasib. Selebihnya mohon doa dari anda yang membaca tulisan ini. Tulisan ini adalah tanda bahwa saya sudah siap secara mental dan fisik untuk hidup "menyimpang" dari "normalitas" saya tiap hari :D.




Kunci

Suatu ketika aku  berada pada puncak masa muda : bersenang-senang dengan sejumlah teman, merasa dirinya yang terhebat, dan lain-lainnya. Namun suatu ketika terdapat permintaan dari seseorang untuk menghantarkan suatu barang , berupa sebuah kunci. Tanpa banyak bertanya, aku langsung menuju ke tempat yang dimaksud. Melewati daratan yang menurun terjal, hujan yang rintik, angin malam yang menusuk, apapun aku hadapi. Dengan percaya diri aku terus menuju ke tempat yang dimaksud, tanpa memastikan ulang bahwa orang yang dimaksud sedang berada di tempat atau tidak. Begitu sampai, ternyata tidak ada apa-apa di tempat yang dituju, melainkan harapan kosong dan tak seorangpun yang ada disana. Pulang dengan tangan hampa, dan kecewa karena tidak bisa menunaikan tugas, aku pun lunglai. Di perjalanan pulang, tiba-tiba 9 ekor naga menyerangku. 8 diantara mereka tidak dapat menaklukkanku. 1 yang terakhir ini kemudian mengeluarkan semburan beracunnya yang kemudian melumpuhkanku membuatku tak berdaya. Aku hanya berpasrah kepada Hyang Maha Kuasa, aku ikhlas. Tak ada sakit, tak ada susah disaat kita berpasrah. 9 ekor naga itu pada akhirnya menaklukkanku, dan aku tergeletak, dibuat lemas tak berdaya.

"Aku serahkan hidup dan matiku padamu" bisikku.
 
Semuanya hitam, kelam. Dalam bayang-bayangku terkenang hal-hal yang telah kulalui. Kuingat pesan kawanku yang menyuruhku untuk berhati-hati, orang orang yang kusayangi dan segala keburukanku. Arus pikiranku yang terdistorsi sekian jauh itu perlahan digerakkan oleh satu suara dari dalam sanubariku yang menghentak,
"Belum waktunya untuk mati"
 
Seketika itu juga, aku terbangun, dan kekuatanku yang hilang muncul lagi. Suara itu membuatku mampu berdiri kembali, kembali untuk pulang. Namun pada akhirnya, kunci itu tidak tersampaikan, malah hilang. Sebagai gantinya, aku mendapat ganti berupa "kunci" yang membuatmu kekal, terlindungi dari segala macam petaka di dunia.

Ingin tahu apakah kunci itu ?


Back from the Dead

Sesuai dengan judul, aku memang baru saja bangkit dari "kematian". Bukan berarti aku jadi zombie trus makanin otak dan organ tubuh yang masih hidup, tapi aku masih diberi kesempatan kedua untuk hidup. Siapa yang memberi ? Tuhan, atau apapun kamu menyebutnya, terserah.

Bulan oktober kemarin memang gak ada kejadian yang spesial untuk ditulis karena well kebanyakan yang ada di dalam pikiran ini adalah seorang cewek yang membuat diri ini bertanya-tanya. Ibaratnya dia adalah mata badai di dalam pikiranku : ditengah ricuhnya pikiranku karena bekerja, pikiran tentang dia sendiri tidak terpengaruh oleh hal-hal lain. Intinya, dia membuat fokus pikiran ini malah tertuju ke dia, bukan kepada hal-hal lain yang lebih penting. Imbasnya, galau menjadi aktivitas sehari-hari dan gojlokan dari teman-teman pun gak bisa dihindarkan. Aku benar-benar jadi sambel ulek bulan kemarin.

Kebetulan, dia berasal dari prodi yang beda, jadi gak semua orang di prodiku tahu tentang dia. Disamping temen-temen prodiku, aku juga punya temen dari prodi cewek itu. Otomatis, dengan temenan sama mereka aku bisa dapet info tentang dia. Sialnya, mereka pun ngejadikan aku bahan gojlokan karena sampe detik ini aku gak pernah nembak dia. Dari sinilah, aku simpulkan bahwa masa awal bulan oktober kemarin gak ada kegiatan yang berarti.

Di pertengahan bulan, mereka mengadakan malam keakraban di kota Batu, Malang. Selain bisa main sama teman-teman, momen ini bisa aku jadikan buat ketemu sama dia, ngomong apa yang aku rasakan ke dia. Aku nekat, hari Rabu malam tanggal 17 oktober aku langsung berangkat ke malang tepat jam 18.00 bareng Ermeyta, temenku satu prodi yang kebetulan juga mau balik ke malang. Aku pun bohong ke ibu bapakku, karena aku yakin kalau alasannya main ke cuban rondo, apalagi naik sepeda motor, gak akan diizinkan. Maka aku pun bohong ke mereka dengan alasan aku mau hunting foto di malang. Aku pun berangkat naik mio putih punya abangku. Kira-kira jam 22.30 WIB, aku sampai disana. Aku ngobrol-ngobrol sama teman-teman yang udah berangkat lebih dulu sebagai pionir. Sampai malam, kami ngobrol, guyonan gak karuan, bahkan joged ala gangnam style di atas mobil pickup di tengah malam. Untuk sesaat, aku merasa bahagia, karena mungkin inilah yang aku cari : teman yang bisa diajak gila-gilaan bersama-sama. Aku merasa inilah dunia yang aku cari.

Esok harinya, aku ikut ngebantu mereka membangun tenda. Karena kurang tidur, kira-kira jam 11 aku pergi ke bawah ground kemah untuk makan. Disini, aku banyak ngobrol sama seorang temanku, namanya Haidar. Dia orang keturunan arab, tapi besar dibali. Hasilnya : leak bermata belok berambut keriting. Dia orang yang easy going dan paling suka nyacatin orang. Guyonannya bikin aku ketawa ngakak, karena itu aku nyaman temenan sama leak satu itu. Dari dia juga aku tau banyak soal leak. Tau leak? itu lho, orang yang berubah jadi makhluk jahat dengan bantuan ilmu sihir demi suatu tujuan tertentu. Kukunya panjang, matanya melotot, lidahnya menjulur. Dan si Haidar dengan entengnya cerita-cerita tentang leak yang pernah dia temui di bali. Selain itu juga, dia nyekoki aku dengan lagu beraliran progressive metal ala Dream Theater. Impiannya adalah punya jenggot yang bagus buat nyaingin Mike Portnoy, mantan Drummer Dream Theater. Dengan orang yang terhitung baru kenal ini, aku bisa ngerasa udah kenal bertahun-tahun. Yah, mungkin yang maha kuasa mengatur pertemuan dengan leak satu ini untuk suatu tujuan tertentu.

Menjelang malam, aku was-was. Karena besok jumatnya aku harus segera kembali ke surabaya buat ngehadirin kuliah SSBI dan SPI. Teman-teman nyuruh aku buat stay disana sampai camp selesai, setidaknya sampai si cewek yang aku maksud disini datang. Aku bilang, "sori rek aku gak bisa lama-lama". Disaat itu, seorang temenku yang bernama Agastyo Djanardono alias Kafirun Minallah (naudzubillah) bilang kalau aku pulang dan setelah di surabaya aku gak berani ngomong sama si cewek tersebut, dia bakal nyuruh temennya yang paling ganteng dan jago sepik, si Ari buat nyepik si cewek. Bayangkan orang ganteng dan jago sepik mencoba menaklukkan cewek yang kamu sukai, Mungkin dalam kurun waktu kurang dari 2 hari, si cewek bakal takluk dan aku cuma bisa nyesel karena nggak bertindak lebih cepat. Agas nyebut istilah ini, "release the kraken".

Sebelum pulang, aku sengaja ngulur-ngulur waktu, sekaligus nunggu balesan dari Meta yang katanya mau kembali ke Surabaya bareng-bareng. Apesnya waktu mau pulang, temenku Krisna minjem helmku buat pergi ke kota Batu dan lama banget. Otomatis, buat membunuh waktu aku sempatkan ngobrol sama si Haidar. Karena keasyikan, akhirnya dia pun ngusir aku karena takut aku pulang kemalaman. Sebelum pulang dia nitip kunci kos nya supaya dikembalikan ke kosnya. Aku pun berangkat jam 22.30 malem, dan sampai di surabaya dengan selamat jam 1 pagi. Karena kelupaan ngembalikan kunci kos, aku pun muter balik dari jalan diponegoro, menuju ke gubeng. Karena Nico, temenku yang ada di kosan itu sudah tidur, aku pun balik ke rumah.

Disinilah musibah itu terjadi.

Tepat sebelum aku menggok ke Gubeng Kertajaya, aku lihat kerumunan anak yang lagi nyangkruk di daerah Depot Slamet. Karena aku kira mereka orang biasa, aku pun lengah. Tepat waktu aku dalam perjalanan kembali lewat jembatan viaduk yang mengarah ke persimpangan Delta, Stasiun Gubeng lama dan Hotel Sahid, aku dipepet rombongan anak-anak yang naik motor, dan aku ditendang jatuh.

Brengsek.

Siapa mereka ? Apa Salahku ?

Belum sempat aku bangun, satu diantara mereka bilang "kon mari ngantemi adekku yo? (kamu habis memukuli adikku ya?) . Karena aku gak tau adeknya siapa dan juga gak tahu bahwa hal itu adalah modus umum pencurian, (btw kenal adeknya aja nggak)akhirnya aku ngeyel "aku gak kenal adekmu, C*k. Lantas, salah satu pelaku ada yang mau ngambil sepedaku (yang dia akui sebagai sepedanya). Karena aku gak merasa salah dan kebetulan lagi  kalap, aku tendang dia. 2 orang sempet jatuh kutendang, sebelum akhirnya mereka ngeroyok aku. Sakit bekas pukulan gak kurasakan, entah kenapa. Ditengah perkelahian itu aku berhasil megang kendali gas sepedaku dan teriak "allahuakbar", tapi aku diserang dari belakang.

Di akhir pengeroyokan, salah satu dari mereka ngeluarkan celurit dari tas. Mungkin karena aku nggak bisa dirobohkan dan juga mereka kesal karena aku sebagai korbannya masih sempat ngelawan dan gak takut sama sekali. Salah satu dari mereka ada yang teriak, "copot helmnya!" . Dalam hati aku mikir, waduh bakal gak selamet aku. Si pembawa celurit bolak-balik menghantam helmku dengan celurit itu selama lebih dari 10 kali serangan. Untungnya helmku jenis fullface yang tebal, jadi kepalaku nggak terekspos langsung sama senjata itu. Begitu ngeliat celurit itu, aku pasrah dan berserah diri. Kalau memang setelah itu aku bakal mati, aku terima. Kalau aku tetap hidup, aku terima.

Tiba-tiba, pandanganku jadi jelas. Helm yang aku pakai seakan-akan lepas dan hilang entah kemana. Begitu pengeroyokan selesai, aku cuma bisa teriak "apa salahku ya allah". Sekujur tubuhku lemas kehilangan tenaga. Darah mengucur dari kepala, tangan kiri bergeser ke bawah dan pergelangan tanganku robek kena senjata tajam. Dari kejauhan, aku lihat motorku dibawa lari sama kerumunan rampok ingusan itu. Aku cuma pasrah, dan berusaha minta tolong sebisaku.

Tiba-tiba di depanku melintas mobil ambulans dengan logo partai politik x. Aku sempet melambaikan tangan, dan ambulans itu melengos pergi. Dari tempatku terduduk, aku teriak "politik t**k'. Aku kesal, karena pertolongan yang paling aku butuhkan itu malah melengos gitu aja. Akhirnya aku teriak-terak terus minta tolong, dan orang dari bawah kolong jembatan berdatangan. Mereka sebetulnya dengar ada ribut-ribut tapi ragu menolong karena ada yang bawa celurit. Kemudian mereka tanya identitasku, dan menelepon bapakku. Karena sulit dihubungi, aku langsung dicarikan tumpangan ke rumah sakit (kebetulan TKP dekat RSUD Dr. Soetomo).

Karena lama, aku tidur sebentar. Dalam keadaan luka parah itu, aku masih sempat-sempatnya tidur. Yang kebayang di pikiranku saat itu cuma makhluk-makhluk bernama Digimon. Iya, digimon yang pernah aku bahas di blog ini. Gambaran tentang makhluk ini muncul terus di pikiranku. Karena pikiranku makin ngawur, aku bangun lagi. Mungkin emang benar kali ya, orang yang udah mau mati itu pikirannya ngelantur kemana-mana. Bukannya nginget dosa-dosa yang aku telah lakukan, yang aku ingat malah... Digimon.

Tumpangan berupa ojek pun datang. Aku diapit di tengah, satu orang warga duduk di belakang. Akhirnya aku dibawa ke rumah sakit Dr. Soetomo dalam keadaan sadar. Aku masih inget ketika dokter meriksa kondisiku, dan aku masih inget juga kalau mereka selalu ngingetkan aku supaya aku gak mejamkan mata. Takutnya, aku  bablas dan meninggal seketika. Akhirnya, bapakku datang dan beliau shock lihat keadaanku. Aku minta maaf kalau aku bohong, dan aku cerita kalau aku dikeroyok 8 orang. Bapakku menghentikan omonganku sampai disitu, karena takut aku kecapekan.

Segera setelah itu, bajuku dirobek dan aku dioperasi seketika. Karena menurut dokter paru-paruku bermasalah, rusuk kiriku dibedah dan dipasangi selang yang disambung ke inhaler. Sakitnya luar biasa, gak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Selanjutnya tititku dipasangi selang kateter buat ngebantu saluran urinku selama dioperasi. Setelah aku dipasangi alat bantu pernapasan, aku gak ingat apa-apa lagi.

Gelap. Hampa. Eksistensiku serasa hilang.

Apa aku mati ?

---------------------------------------------------

-------------------^-----------^^^^^------^^^---

 --------^^---^^----^^------^^^^--------^^^----

Aku membuka mata dan terdengar suara,"alhamdulillah".

Terima kasih Tuhan.

Aku masih hidup.