Suara hati

Aku terduduk dalam diam,merenung di dalam kamar mandi,memegang sebuah ponsel.Aku menyapa seorang kawan baikku,dan menceritakan keluh kesahku selama ini.Sudah lebih 7 bulan lamanya aku terjebak dalam situasi ini : tidak pasti,merenung,marah,benci,rindu pada saat yang sama.

Tak ayal,banyak temanku yang berkata,ketika kau menginginkan sesuatu maka curahkanlah perhatianmu sepenuhnya pada hal itu.Lantas,aku kembali berpikir,dan menerawang kembali ke masa 7 bulan lalu,ketika aku baru saja berpaling dari seseorang.Seseorang yang berarti hingga membuatku merasa kehilangan jika tak berkomunikasi dengannya,walaupun cuma sekedar di dunia maya.

Aku telah berpaling kepada seseorang yang baru,dengan harapan baru bahwa aku akan bisa merasakan curahan perhatian dan kasih sayang dari seorang wanita.Dan,di tempat itulah aku bertemu dengannya.Ya,tempat itu,tempat dimana aku pertama kali merasakan transisi dari seorang siswa menjadi "maha"siswa.Menjadi mahasiswa berarti aku harus meninggalkan kebiasaan dan pola pikirku sebagai siswa,dan melakukan suatu proses evolusi menuju diri yang baru.Sama seperti evolusi diriku,hatiku juga turut berevolusi.Aku tak mungkin terpaku pada seseorang yang lalu,dan aku memutuskan untuk merubahnya.

Dan keputusanku jatuh kepada dia.

Seorang wanita yang tak kutahu ada apa dalam dirinya,hingga membuatku tertarik,jantungku berdebar ketika melihatnya.Tak ada satu sisipun dari dirinya yang kurasa "kurang" dari diriku ,namun aku tetap terpaku padanya.Seorang wanita yang diam-diam merenggut kuasa dari diriku,seakan aku ini boneka ,patung yang tak bernyawa.Ia adalah pengendaliku,yang seakan menyusutkan energiku.Menjadikan aku,bukanlah aku.

Wanita macam apa yang bisa membuat diriku ini menjadi kaku,bahkan tak bernyawa di depannya?

Wanita itu,tak bernama.

Namanya hanya akan terpajang di daftar pencarian harta karunku yang gagal.

Gagal,bahkan aku belum mencoba untuk mengungkapkan isi hatiku padanya.Rasanya nihil,nyinyir jika tak ada usaha dari diri ini.

Seorang bijak pernah mengatakan,orang yang tidak memperturutkan dirinya dalam emosi,dia akan memperoleh cinta sejati.

Jika menghadapinya saja aku seakan tidak memiliki emosi,apakah aku ini meraih cinta sejatiku? Ataukah aku hanya korban dari seorang penyihir wanita yang pesonanya mampu membunuh seribu lelaki?

Aku tak tahu.Pikiran itu kusimpan dalam-dalam di benakku yang dipenuhi debu.

Seorang bijak berkata,bahwa harapan itu ada bagi mereka yang terus berusaha dan tidak menyerah.Namun ia lupa mengatakan,bahwa keajaiban akan datang kepada mereka yang berusaha dengan bijak.

Menyerah tidaklah selalu suatu hal yang buruk,apalagi ini demi kebaikan diri sendiri.Jika dengannya aku tidak bisa menjadi diriku,rasanya sia-sia.Seakan-akan aku memakai topeng pangeran tampan yang ia impikan di depannya,padahal dibalik serigala itu aku adalah si bungkuk dari notre dame,seorang yang terasing dari dunia hanya karena ia berbeda.

Aku terasing darimu,hanya karena aku berbeda.

Tak cukup ribuan kata menjelaskan semua yang kupikirkan.

Saat kau jauh,dekat,pergi,bicara padaku,jantungku selalu berdetak lebih kencang,dan selalu timbul dalam pikiranku,"inilah orangnya,dan kau harus mengejarnya".

Kurasa saat itu,pikiranku keliru.Jika aku memang diperuntukkan bagi dirinya,aku pasti dimudahkan dalam mendekatinya.Entah usaha yang kulakukan nihil di matanya,atau mata-Mu,hai khalik,aku tak tahu.

Satu hal yang kusadari dari pikiranku saat itu,ia berkata hal yang selama ini hampir sama,ketika aku mencoba mendekati seorang wanita.

"Ini yang kau inginkan"

Apa yang kita inginkan,tak selalu yang kita butuhkan.

Kau boleh menginginkan sebuah mobil,namun kau belum tentu benar-benar membutuhkannya.

Apakah aku butuh dia?Apakah aku butuh orang seperti dia,atau menginginkan dia semata ?

Teringat kata seorang bijak,"jika ingin membuat dirimu bahagia,maka bahagiakanlah orang lain".

Aku mungkin tak melakukan yang terbaik untuk membahagiakannya,setidaknya itu yang aku tahu.

Banyak pula temanku yang mengingatkanku,berhentilah,ataupun teruslah maju mendapatkannya.

Memangnya dia itu apa ? Pertandingan bola ?

Dia seorang wanita,yang aku tak yakin apakah aku mencintainya atau tidak!! .

Dikejar,makin sulit,tak dikejar dipermudah namun ujungnya sakit.

Sabar,adalah kata yang sering diucap oleh sejumlah kawan.

Aku tetap ingin sabar,tetap ingin baik,namun bukan untuk menjadikannya kekasihku.Aku tak ingin memilikinya,karena dia tidak menunjukkan rasa yang sama.

Suara hati ini,tak akan terdengar lagi.

Lebih baik kutata dulu diri ini,dalam keheningan ,baru aku bisa kembali seperti dulu lagi.

Pikiranku kembali kepada diriku yang terjebak dalam keheningan di kamar mandi.

Dari keheningan sejenak itu,timbul satu pertanyaan di benak ini.

"Apakah sekarang waktunya berhenti ?"

0 komentar:

Posting Komentar