Sabtu Sore di Negeri Tak Berbatas (Pt.2)

Kebahagiaanku dengannya dibawah sinar senja ini membuatku teringat masa dulu,  tepatnya seribu tahun yang lalu. Kala itu, aku masihlah seorang pengelana antardunia yang ditugaskan ke dunia ini. Demi memperluas pengetahuan bangsa kami tentang alam semesta, setiap jiwa-jiwa muda dipersiapkan untuk mengunjungi dunia yang asing bagi kami, bangsa Esoterica. Kunjungan pertamaku di dunia ini kumulai dengan harapan singkat, yakni agar perjalananku ke kampung halaman tidak terhambat, dan aku tiba dengan selamat.

Dari sekian catatan tentang dunia yang dikunjungi bangsa kami, dunia ini cukup aneh. Lautnya mendominasi daratan, sekitar 9:1. Di ujungnya, terdapat batuan karang raksasa seluas 15,242 km dengan ketinggian 4,002 m. Planet ini hampir tidak memiliki tumbuhan hijau yang menjulang di tanahnya. Apabila planet ini dihuni makhluk hidup, maka kecil kemungkinan bagi mereka untuk bertahan, sebab tidak ada pasokan oksigen dari tumbuhan.Tidak mungkin ada yang bisa hidup di planet ini.

Setelah pengukuran dasar kulaksanakan, aku berdiam di dalam pesawatku sejenak. Aku percaya bahwa mustahil bagi seorang penjelajah untuk dikirim ke dunia yang tak dapat dihuni oleh makhluk hidup. Kalaupun tidak ada daratan.Setelah pengukuran dasar kulaksanakan, aku berdiam di dalam pesawatku sejenak. Sambil menengok ke bingkai kaca yang berembun, kusaksikan lautan megah, luas dan tak berujung itu disinari sang surya yang tenggelam.

Anehnya, mataku seperti ditipu oleh bayang-bayang matahari. 

Dari kejauhan, terlihat sesosok makhluk seperti manusia menyapaku dari dalam laut. Tidak percaya, akupun menerawang ke kejauhan menggunakan binokuler. Begitu kutengok kembali, sosok tersebut telah lenyap tak berbekas. Berdasarkan penglihatan ini, aku percaya bahwa di dunia ini ada kehidupan, atau kehidupan mungkin ditumbuhkan di sini.


Sabtu Sore di Negeri Tak Berbatas (Pt.1)

Sabtu sore itu, mungkin akan menjadi pemicu segalanya. Segala haru, cinta, benci, rindu yang menjadi satu rupa berwujud rasa. 

Teringat dalam benakku, sebuah sabtu sore dimana aku dan engkau terduduk diam.Kau bersandar di pundakku, bersamaku menikmati perginya sore sambil berbincang ringan di tanah tak berujung. Setidaknya, saat itu kita berbahagia dan saling jujur terhadap perasaan masing-masing. Saling bersandar, membagi kisah dan opini terdalam yang tak kunjung terungkapkan. Dalam cemas bercampur gembira, bersamanya aku menunggu senja datang, saat mentari pamit tuk bersembunyi Dibalik kerumunan pohon nan rindang, duduk dibawah langit yang berjajar. Kala itu, yang kuucapkan dan kupikirkan berada dalam satu sinergi yang serupa;

"Aku ingin, agar momen ini berlangsung selamanya", bisikku kepadanya.

Dalam tangis harunya, ia menjawab, "sampai matahari berpaling saja.

Saat itu, aku berdoa kepada dewata dan seluruh alam semesta; Terima kasih telah membantuku meraih bahagia.

Lost stars

Ketika itu, saya tengah mengalami kejengahan hati. Di sebuah warung kopi di sudut Universitas Airlangga itu, saya merenung meratapi nasib dan menyelami celah terdalam di dasar hati. Di dalam pikiran saya, hanya ada satu hal : bintang mulai menghilang. Ketika malam menuju pagi, saya meratapi langit untuk mencari bintang. Bukan tanpa sebab, namun ketika saya melihat bintang, kontemplasi diri ini menjadi semakin mudah, semakin dalam. Di saat saya membutuhkan kontemplasi itu, bintang yang saya cari menghilang-dengan perpisahan yang menyakitkan, ia meninggalkan saya. Mohon maaf kalau gaya bahasa yang saya gunakan di tulisan ini sedikit sendu, sebab saat ini saya sedang ingin sendu. Penyebab yang mendasar adalah tentang bintang hati saya yang kini hilang.

Mengapa secara khusus saya menggunakan istilah bintang yang hilang sebagai judul? 

Bintang, adalah objek yang memiliki cahaya. Ia hanya bisa dilihat saat dunia kekurangan cahaya atau gelap. Di kala terang, bintang bukannya menghilang, namun mengabur oleh sinar matahari.

Bintang di hati ini tengah menghilang. Bukan karena ditutup oleh matahari, namun ia telah pergi dari hati ini. Kini, hati saya kembali gelap, tanpa penerang. Semesta diri masih tetap berjalan, namun tanpa bintang, ia hampa, tak berwarna. Untuk menjelaskan keadaan hati ini, saya akan mengutip dari lagu Adam Levine "Lost Stars" yang liriknya seperti ini:

But are we all lost stars trying to light up the dark ?


Tanpa terkecuali, semua manusia digambarkan sebagai bintang yang tersesat dan hilang arah. Masing-masing mencoba menerangi gelap di dunianya. Beberapa orang menganggap orang lain sebagai bintangnya, namun tanpa kita sadari seringkali kitalah bintang penerang kehidupan orang lain. Bagaimana mungkin kita mempercayakan nasib kita pada orang lain, sementara yang menjalani hidup ini sebagai protagonis adalah kita sendiri? Diri ini bukanlah tanpa makna ketika bintang kehidupan kita menghilang, sebab kita adalah bintang bagi diri kita sendiri. 

Terkait dengan hal yang saya utarakan, sebenarnya saya tidak sesedih di masa yang lampau, sebab pada awalnya kami telah berkomitmen bahwa perpisahan pasti terjadi, namun tiada terduga hanya berjalan selama satu kali purnama. Saya kesal, merasa bahwa ia tidak menghargai komitmen yang telah dibangun sedemikian rupa. Ketika saya membutuhkannya, ia bagaikan bintang di siang hari; seperti tak ada, padahal ia ada. Bahkan, saat ini ketika ia tidak lagi bersama saya, ia bagaikan bintang mati; kehadirannya tak terasa lagi di hati ini.

Mungkin engkau dan aku berada di semesta, namun dalam tataran alam yang kita enggan menjamahnya. Aku mengibaratkan diriku sebagai pelaut yang mengarungi samudra guna mencari cinta sejati.

Suatu ketika, di laut yang ke-5, aku bertemu seekor duyung yang nyanyiannya membuatku terpikat. Kami telah saling mengerti batasan yang menghalangi kami, namun kami saling acuh. Pada akhirnya, diajaknya aku menyelami dunianya di bawah laut. Ia menjanjikan kehidupan bak istana atlantis; tenang, megah nan sunyi, dan hanya kami berdua yang menghuninya. Sebelum mencapai tujuan tersebut, ia melepas tangannya dariku, dan membiarkan air mencekik kerongkonganku. Kulihat buih udara berhamburan dari diri ini, dan terus bertanya dalam hati: oh, Dewata, mengapa semua berakhir begini? Apakah aku terlena dalam nyanyiannya, hingga aku menjadi buta?

Hati ini terus bertanya, menggema dalam hati yang gelap, tanpa cahaya. Biar semesta tetap bercengkrama, engkau dan aku tak dipersatukan, baik dalam mimpi atau realita. Bintang dalam hati ini menghilang, kembali hati berada dalam kontemplasi tak beraturan.

Celine, i wish you were here.

Sepenggal cerita dari warung kopi

Salah satu hobi baru yang membuat saya candu di akhir-akhir ini adalah berkelana di sejumlah warung kopi di kota Surabaya. Selain memenuhi kebutuhan ngemil, warung kopi memberikan saya wadah untuk mengisi waktu luang untuk banyak merenung. Ya, merenung adalah satu hal yang paling saya senangi. Kebiasaan ini memberikan saya banyak momen untuk introspeksi, memikirkan hal-hal di luar jangkauan saya. Warung kopi, seperti menjadi jalan untuk saya melepas hasrat diri yang terdalam. Bukan berarti saya tidak bisa merenung di tempat selain warung kopi, tetapi ada sejumlah hal yang tidak bisa kita dapatkan selain di warung kopi; celetukan si pemilik warung pada pelanggan yang berhutang, seorang PNS (pegawai negeri sipil) yang memamerkan koleksi batu akiknya, atau sekumpulan anak muda yang membahas hal muluk-muluk, kritis dan konyol. Semua itu terjadi secara random, bahkan dapat saya katakan bebas, lepas, namun tidak menyenggol satu sama lain. 

Membicarakan tentang warung kopi, rasanya tidak afdol kalau kita meninggalkan istilah tersebut hanya pada sebuah bilik berisikan lampu petromaks dan kompor gas yang tengah menggodog air. Di Indonesia, terdapat sebuah grup lawak dengan nama yang sama, Warkop DKI, atau Warkop prambors. Saya tidak akan membahas panjang lebar tentang sejarah dan tetek bengek tentang Warkop, karena info tersebut bisa anda temukan di penghujung manapun di dunia maya. Semasa saya kecil, saya tidak terlalu sering menontonnya (maklum, lahir tahun 1993, dan masih dibodohi dunia). Satu kenangan yang mendasar tentang Warung kopi dan personilnya yang pertama kali saya dengar, adalah meninggalnya almarhum Kasino Hadiwibowo pada tahun 1997. Saya baru 4 tahun, dan saya merasa bingung, lah kok meninggal orang ini?. Kemudian, pada tahun-tahun berikutnya, pada tahun 2000, saya melihat sebuah program televisi (kalau nggak salah, Warkop Millenium). Saya melihat Kasino tengah bercanda dengan kawan-kawannya di stasiun televisi. Lho, kok saya seperti ditipu? Katanya sudah meninggal, kok masih ada saja di televisi? Logika saya kala itu, mengarahkan saya untuk kagok. Beberapa tahun kemudian, saya baru sadar, bahwa televisi tidak melulu menampilkan hal secara langsung. Hahaha, mungkin kedengarannya saya bodoh, namun di satu sisi kita perlu mempertanyakan, benarkah seseorang benar-benar "mati"?. Istilahnya, apabila seseorang meninggalkan dunia, dimakamkan, apakah kemudian kenangannya akan hilang?. Tidak, karena ia akan ada di benak orang lain yang mengenalnya. Apabila ia seorang figur yang berkontribusi di masyarakat, ia akan diabadikan; sebagai nama, sebagai suatu hal yang dirindukan (meminjam istilah Baudrillard & Lyotard; Nostalgia!!). Mereka tidak mati, tidak, selama masih ada yang mengenang mereka.
 
Kembali lagi ke persoalan warung kopi. Semangat kebebasan berbicara adalah yang terdapat di (menurut saya), setiap warung kopi. Selama ada manusia yang ingin bertukar pikiran dan melakukan kontemplasi di tempat ini, semangat kebebasan berpendapat itu akan ada. Kapan lagi, kita bisa secara random membicarakan ketuhanan? Kabar miring tentang aparatus negara, atau banyolan internal yang kita nikmati secara terus-menerus dan menimbulkan kekehan tiada henti? Hanya di warung kopi, semangat itu terwadahi. Sayangnya, di satu sisi terkadang perkembangan jaman juga turut menggerus semangat ini. Dominasi teknologi bernama ponsel cerdas (smartphone), membuat akses ke dunia luar begitu mudah, sehingga ketika kita melihat seseorang sibuk menatap objek berpendar tersebut, bisa dipastikan bahwa jasadnya tetap berada di tempat, namun pikirannya melanglang buana, sehingga atensi (perhatian) dirinya teralihkan. Bagaimana juga, apabila ia tetap konsisten pada layar dan mengajak orang tersebut bicara, ia tidak akan memerhatikan secara utuh. Ada yang mengistilahkan orang seperti ini autis, anti-sosial. Istilah ini tidak benar, mengingat ada istilah phubbing, yang lebih tepat untuk menjelaskan keadaan di mana ada seseorang yang terlalu sibuk menatap perangkat teknologi sementara ada sebuah konteks sosial yang berlangsung. Menurut saya, percuma saja anda menjunjung tinggi semangat demokrasi, kebebasan berpendapat, namun anda, orang sekitar anda melakukan phubbing?. Mengarahkan orang untuk menghargai mereka yang meluangkan waktunya untuk bertukar pikiran adalah satu langkah memanusiakan orang lain. 

Oh ya, apabila ada di antara anda yang melihat posting dalam blog ini secara mendalam dan melihat tema dan gaya penulisan yang inkonsisten, saya jelaskan bahwa saya orang yang ingin berpikir dan berperilaku bebas, walaupun beberapa muatannya mungkin tidak bermanfaat, merugikan dan merusak jantung. Saya menjunjung tinggi semangat kebebasan, maka dari itu, anda bebas mengkritik saya. Terima kasih, selamat pagi, dan selamat menempuh hidup baru.

Bima Adi Priambodo

Mahasiswa kepentok Skripsi

Somehow..

Somehow.. dalam satu semester ini saya berantakan.
Somehow.. semua berjalan tanpa saya sadari
Suddenly.. i got a girlfriend.. yet she's not whaat i was waiting for
Suddenly.. i realized that i'm getting older.. it's my fourth year, yet to leave this place


Memang, semua ini terasa begitu cepat. Kemarin, segalanya tampak baik-baik saja, tidak ada yang banyak berubah, hanya saja empat ringkasan di atas membuat saya berpikir dan merenung sejenak, bahwa saya tidak lagi berada dalam sebuah fase untuk berpikir bahwa "semua akan baik-baik saja".

Satu per satu, saya melihat teman-teman saya pergi. Pergi dari kampus, yang mana mereka telah menjalani sidang skripsi seusai berjuang selama 3,5 tahun. Sedangkan saya? masih menunggu hidayah, atau bahkan tidak berani beranjak dari kemalasan berkedok "zona nyaman". Semua adalah dosa, yang saya rasa berasal dari segala bentuk tindakan saya.Orang mengatakan ini sebagai sebuah karma, sebuah adzab yang membuat diri ini terkena balasan atas segala tindakan yang telah saya lakukan; saya tidak kunjung membenahi diri, tidak kunjung mengerjakan skripsi.

So, the conclusion is?

Membenahi diri? Membuang ego, hasrat yang menggila untuk menghindari skripsi? Tidak segampang itu. Tidak ada ide yang terwujud tanpa dilengkapi oleh aksi. Jika aksi, atau tindakan yang diperlukan, maka mau tidak mau, harus saya lakukan. Tidak boleh ada lagi hal baik yang saya tunda.
Tidak boleh.

Ancient Aliens!!

Belakangan ini, kelengangan waktu yang saya miliki, saya pergunakan dengan seksama untuk menyimak dan memikirkan sebuah tayangan di televisi kabel, bertajuk "Ancient Aliens" yang disiarkan di History Channel. Secara ringkas, tayangan ini mengisahkan tentang bagaimana peradaban kuno di bumi dulunya sering menjumpai makhluk Ekstraterestial, atau yang kita kenal sebagai alien di masa kini.
 
 Dengan teknologi dan pengetahuan kita yang konon melampaui pengetahuan manusia zaman tersebut (bahkan mungkin di zaman semacam ini), mereka memperkenalkan manusia terhadap hal-hal yang bersifat konstruktif, yang mengarahkan manusia untuk membentuk peradaban seperti yang kita kenal sekarang ini. Dengan gamblangnya, acara ini, serta berbagai narasumber yang ditampilkan menyebutkan bahwa hal tersebut mungkin saja terjadi, atau bahkan pernah terjadi secara riil.
 
Mengapa demikian? Berdasarkan materi tayangan tersebut, saya menyimpulkannya dengan beranggapan bahwa manusia di zaman itu belum mengenal hal-hal yang kompleks dan bersifat ilmiah. Mereka tidak akan mampu membangun piramida giza yang secara struktural begitu kompleks, dan tidak dapat dibangun dalam waktu yang relatif singkat. Beberapa relief kuno di situs pra-sejarah menunjukkan gambar-gambar makhluk yang asing, di mana dalam relief tersebut sosok terkait diilustrasikan bersayap, mengendarai objek asing (UFO) yang berbentuk seperti kendaraan terbang. Sekilas, acara ini membuat kita terpukau dan berpikir bahwa hal itu mungkin saja terjadi; kita tidak dapat mengetahui secara mendetail apa saja yang terjadi di masa itu, dan tidak ada bukti kuat yang mendukung alien itu benar-benar tidak ada. Anything's possible, kalau saya boleh berkomentar, karena toh manusia hanya terkungkung pada satu semesta yang disebut bumi, dan tidak banyak hal yang manusia ketahui tentang ruang angkasa. Bahkan, secara ekstrim saya berkata bahwa manusia tidak tahu apapun sama sekali tentang alam semesta. Yakinkah kita bahwa bumi yang kita kenal adalah bumi? Apakah kita ini benar-benar ciptaan tuhan, atau justru kita ini adalah ciptaan alien, seperti yang digagas di acara tersebut? Kita tidak tahu pasti kan?

Dari racauan panjang di atas, saya terpikir bahwa teori ini, sepintas memiliki "loop" yang tajam di dalamnya. Apa saja ? Berikut ini pemahaman saya mengenai teori tersebut:
 
1. Mengingat sejarah manusia, di berbagai belahan dunia manapun, selalu mengkaitkan tentang asal-usul penciptaan mereka dengan para dewa, tuhan, atau makhluk astral yang berbeda dari mereka. Dengan kekuatan ilahi, sosok ini memberikan berkah, kekuatan dan pengetahuan bagi manusia di zaman itu untuk menjalani hidup di dunia ini. Di sini, terlihat jelas bahwa sosok yang banyak berpengaruh adalah para Dewa.

2. Seiring dengan berkembangnya pemahaman manusia tentang alam semesta, ilmu pengetahuan, serta pemikiran manusia untuk hidup maju, mereka mulai meruntuhkan mitos bahwa para Dewa adalah yang menciptakan manusia. Gunung, laut, maupun langit yang dianggap sebagai singgasana para dewa pun dijelajahi, dan tidak satupun ditemukan markas para Dewa, sehingga manusia meninggalkan para Dewa, dan beralih ke hal yang lebih baru. Perjalanan manusia yang dilakukan ke luar Angkasa (dimulai dari Bulan) semakin mempertajam opini bahwa manusia tidaklah sendirian di alam semesta ini; luasnya alam semesta dan imajinasi manusia, mengerucut pada satu opini bahwa makhluk dengan intelijensi seperti manusia mungkin saja hidup di luar bumi. 

3. Karena para dewa yang pernah dipuja manusia merupakan "karangan" dari manusia masa lalu, manusia memikirkan hal lain yang lebih fantastis, lebih masuk akal dengan benak manusia di zaman ini. Apa itu? Makhluk asing yang memiliki teknologi tinggi, atau disebut alien. Istilah "alien" sendiri, toh baru dikenal di abad ke-20 ini, sehingga pikiran manusia di zaman ini, secara umum akan terpetakan pada alien, ketika hal-hal yang bersifat asing terjadi di sekitar mereka. Hal yang tidak dapat kita jelaskan asal-usulnya tersebut, kita asosiasikan dengan intervensi alien. 

Adakah dari opini tersebut yang terlihat familiar? 

Ya, Dewa dan Alien adalah imajinasi manusia yang identik, dengan format berbeda. Nenek moyang kita mengaitkan hal-hal yang menakjubkan bak mukjizat dengan aktivitas para dewa, sementara kita, manusia modern, mengaitkan hal tersebut dengan makhluk semacam alien. Sepertinya, kebiasaan ini tidak hilang dari manusia, walaupun zaman telah berbeda; mereka tetap tidak bisa menjelaskan hal-hal aneh, sehingga pelampiasan mereka tertuju pada hal-hal di luar diri mereka. Kita manusia masih terjebak pola yang sama, dan hal ini menunjukkan bahwa manusia, seperti yang saya tuturkan, tidak tahu apa-apa.


Makin Tua Makin Jadi

Setelah menjalani pertapaan, akhirnya ranah imajiner ini terisi.

Kembalinya si pertapa dalam mencari kitab suci, bersama sejumlah kawan mulai menuju akhirnya.

Akankah dia berhasil mencapai pencerahan?

Saksikan di layar tancap terdekat.


Selamat jumpa dengan anjingbicara yang jarang berbicara di dunia ini. Mungkin memang jalan takdir mengarahkan saya sebagai penulis untuk terjebak dalam kerasnya dunia persilatan, sehingga blog ini tak banyak terisi lagi. Bagaimana kabar anda yang membaca tulisan ini? Sehat? Kalau iya, semoga tetap sehat, kalau tidak, ya semoga kesehatan itu tidak menjadi mitos bagi anda sekalian.

Melacak kembali ke posting sebelumnya, yaitu menjelang tua. Ya, setelah beberapa bulan menulis racauan tentang diri yang tidak lagi muda di dunia perkuliahan, ke"tua"an diri ini membuat saya miris, sekaligus tentram di saat yang bersamaan. Mengapa demikian? Satu alasan adalah bahwa saya semakin dekat dengan kehidupan dewasa yang penuh tantangan. Di satu sisi, menjadi orang dewasa adalah momen di mana manusia mulai bisa membohongi anak kecil dengan menciptakan mitos-mitos tidak masuk akal untuk mencegah mereka bertindak liar dan bebas.

Pemikiran semacam ini muncul di pemikiran saya, tepatnya kala dini hari ketika mencari bahan untuk membuat skripsi. Skripsi, ya, skripsi. Salah satu tantangan yang nantinya dihadapi oleh sarjana tua yang hendak memasuki dunia yang kejam. Mahasiswa semester tua berbondong-bondong mendatangi perpustakaan, kafe, dan segala tempat yang menyediakan informasi, privasi yang dibutuhkan dalam menggarap skripsi.

Satu hal yang tidak saya sadari adalah, bahwa saya tidak kunjung menyegerakan untuk menggarap skripsi yang terkatung berminggu-minggu *brb ngecek skripsi*.

Ketika saya bersila di singgasana saya (KBU), saya menatap ke sekitar, melihat lalu lalang manusia yang memenuhi koridor dan parkiran FISIP. Terbersit dalam otak, "terlalu banyak populasi manusia di sini". Mungkin, kami membutuhkan fasilitas baru, atau administrasi kelulusan yang simpel, atau mungkin wabah penyakit jenis baru yang bisa memusnahkan manusia sebanyak ini. Mungkin saja, tapi kalau itu terjadi, saya akan digebuk massa. Melihat bibit muda tersebut, saya tidak menyangka bahwa saya sudah berada di jenjang terakhir. Tidak banyak yang dapat saya katakan, selain fakta bahwa saya sudah menua di sini. Namun, ketika saya melihat teman-teman seperjuangan yang semakin bertindak liar, justru bermain-main. Cerminan perilaku mereka, seperti mengingatkan saya adalah, bahwa tidak seharusnya saya terlalu serius.

Mungkin, yang dibutuhkan oleh orang yang "merasa tua" ini adalah sebuah momen santai. Itu saja.



 

Menjelang tua

*bersih-bersih debu

*ngecekin timeline

Selamat dinihari pembaca!!

(itupun kalo masi ada yang baca)

Sudah (ngitung dulu pake jari) 6 bulan lamanya blog ini tak terjamah oleh tangan bertanggung jawab, huhuhu. Bukan apa-apa, udah bingung mau nulis apa lagi. Curhat via dunia maya is too mainstream. Jadi, yah terpaksa saya tinggalkan blog ini. Tapi iseng-iseng ngecek, dan rasanya miris melihat rekap hidup gak kecatat sama sekali.

Bagaimana kabar anda semua? Sehat? Masih hidup di era jungkirbalik?

Ngomongin jungkirbalik, sekarang agak heran lihat televisi. Kemana-mana, acaranya samaaaa semua. Mulai dari yang guyonannya slapstick, kacau, menghadirkan ular di TV, sampe acara joged bareng-bareng satu kecamatan (kaya acara YKS gitu). Heran ya, joged rame-rame sekarang lagi musim. Mungkin, televisi swasta harusnya bikin acara yang lain daripada yang lain, kaya mandi bareng-bareng gitu. Kan enak, bisa liat-liatan satu sama lain dengan bebas, telanjang apa adanya. 

#digebukmassa

 Singkatnya, banyak terjadi hal-hal unik dan aneh belakangan ini. Setelah sekian lama, band-ku, Mama Suka Metal, akhirnya membuahkan anaknya yang pertama, sebuah lagu berjudul "Budak Dogmatis". Kalau ada yang mau, terutama cewek, imbalannya kasih nomor/ID line kamu. Maklum lagi bingung mencari hati yang bersedia dilabuhi. 

Sekarang, aku ada di dunia dimana aku sudah tak muda lagi (baca: semester tua). Ya, di semester 6 ini, aku mulai menghadapi hal-hal yang menakutkan, salah satunya adalah PROPOSAL. Ya, proposal, atau lamaran, pengajuan. Tapi bedanya, yang dilamar di sini bukan pacar, tapi dosen. Dosen jadi maha kuasa, karena kalau lamaran kita ditolak dosen, kita bakal ngulang, atau lebih parahnya lulus dengan waktu yang tertunda.  Proposal skripsi, mata kuliah yang pasti diambil sama anak Komunikasi Unair yang menjelang tahun tua.

Nggak kerasa, udah 3 tahun lamanya aku masuk ke jurang yang disebut perkuliahan. Rasanya baru kemarin susah payah nyari kuliah, gagal ujian masuk. Baru kemarin rasanya pacaran, putus terus galau. Pacaran lagi, galau lagi. Satu hal yang jelas, waktu terus berlalu, tapi satu hal yang perlu kita lakukan adalah menempatkan diri. Mau berada di belakang waktu, atau di depan waktu. Mau move on, atau stay on? Itu pilihan.

Di saat yang sama, aku lagi nyusun bagan proposal skripsi. Mumpung nganggur kala liburan, lebih manfaat kalau kita pake buat ngelakuin hal yang beginian. Daripada ngabisin duit keluar ke mall, liburan ke mana, mending liburan ke perpus, mojok, buka laptop, bokepan. 

#digebukmassalagi

Maksudku kita lebih baik manfaatin waktu buat ngutak-atik proposal, atau skripsi yang kita garap. Karena skripsi adalah syarat sah buat lulus sarjana. Udah gak keitung mungkin orang yang lulus tertunda karena terjebak di hal yang sama, SKRIPSI. Moga-moga aja, aku, siapapun yang baca blog-ku, gak termasuk salah satu diantara mereka.